By:: Della K
Kota Wonogiri yang dijuluki Bumi Budaya Nusantara, Kabupaten Wonogiri memiliki khasanah budaya berwujud tari, beksan, dan bedhaya yang sarat akan perlambang (makna), tentang filosofi hidup, keragaman kepercayaan, hingga penghormatan ke Hyang Agung (Tuhan yang Mahakuasa). Tak terkecuali Tari Gunungan. Tarian yang dibawakan para pria berperawakan kekar ini memberikan gambaran tuntunan sekaligus tontonan yang mendidik dan menghibur.
Tari Gunungan biasanya dipentaskan menjelang pelaksanaan sebuah acara besar. Menyambut kedatangan tamu agung, pejabat pusat, menteri, juga dalam acara syukuran. Dibawakan oleh sekitar 8 sampai 9 penari pria yang salah satunya memerankan seorang penguasa atau raja. Sedangkan penari lainnya berperan abdi dalem dan kawulo alit (rakyat jelata).
Durasi tarian kreasi baru ini sekitar 10 menit. Menggambarkan kehidupan sebuah kerajaan yang ayem tentrem di bawah pemerintahan seorang raja. Namun ketentraman ini berubah setelah munculnya sang angkara murka berwatak durjana.
Dengan kesigapan para abdi dalem berikut kerja keras dan kegotongroyongan yang kuat akhirnya keangkaramurkaan dapat ditumpas. Hal ini digambarkan dengan para penari yang membawa wayang berujud gunungan (kayon) sebagai simbolisasi pengayoman penguasa atau raja.
Manunggaling kawulo kalawan Gusti atau bersatupadunya antara penguasa serta rakyatnya itulah agaknya yang ingin ditunjukkan dalam Tarian Gunungan. Dengan kesatuan, kepaduan, serta kebersamaan dalam roh Tri Dharma: Rumongso Melu Handarbeni, Wajib Hengrungkebi, Mulat Sariro Hangroso Weni, segala macam bentuk keangkaramurkaan dan kedurjanaan dapat teratasi.
Kota Wonogiri yang dijuluki Bumi Budaya Nusantara, Kabupaten Wonogiri memiliki khasanah budaya berwujud tari, beksan, dan bedhaya yang sarat akan perlambang (makna), tentang filosofi hidup, keragaman kepercayaan, hingga penghormatan ke Hyang Agung (Tuhan yang Mahakuasa). Tak terkecuali Tari Gunungan. Tarian yang dibawakan para pria berperawakan kekar ini memberikan gambaran tuntunan sekaligus tontonan yang mendidik dan menghibur.
Tari Gunungan biasanya dipentaskan menjelang pelaksanaan sebuah acara besar. Menyambut kedatangan tamu agung, pejabat pusat, menteri, juga dalam acara syukuran. Dibawakan oleh sekitar 8 sampai 9 penari pria yang salah satunya memerankan seorang penguasa atau raja. Sedangkan penari lainnya berperan abdi dalem dan kawulo alit (rakyat jelata).
Durasi tarian kreasi baru ini sekitar 10 menit. Menggambarkan kehidupan sebuah kerajaan yang ayem tentrem di bawah pemerintahan seorang raja. Namun ketentraman ini berubah setelah munculnya sang angkara murka berwatak durjana.
Dengan kesigapan para abdi dalem berikut kerja keras dan kegotongroyongan yang kuat akhirnya keangkaramurkaan dapat ditumpas. Hal ini digambarkan dengan para penari yang membawa wayang berujud gunungan (kayon) sebagai simbolisasi pengayoman penguasa atau raja.
Manunggaling kawulo kalawan Gusti atau bersatupadunya antara penguasa serta rakyatnya itulah agaknya yang ingin ditunjukkan dalam Tarian Gunungan. Dengan kesatuan, kepaduan, serta kebersamaan dalam roh Tri Dharma: Rumongso Melu Handarbeni, Wajib Hengrungkebi, Mulat Sariro Hangroso Weni, segala macam bentuk keangkaramurkaan dan kedurjanaan dapat teratasi.

Bagus
BalasHapusBagus
BalasHapuswah menambah wawasan @astridjv
BalasHapusBagus..
BalasHapusDevita. Fs